P4TKSB - P4TK SENI DAN BUDAYA YOGYAKARTA-

Majulah Seni Budaya Indonesia

Berita:
You are here: Home

P4TKSB (P4TK Seni dan Budaya)

Makna Estetika Gunungan Wayang dalam Filsafat Pendidikan

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

Oleh : Marsudi

A. Pendahuluan

gunungan

Istilah filsafat berasal dari kata-kata philein yang berarti cinta atau suka sekali akan sesuatu, kata sophia berarti kebajikan atau kebijaksanaan. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran, filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup itu menentukan arah dan tujuan proses pendidikan. Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan, filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya. Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.

B. Hakekat Pendidikan

Ontologi dari filsafat pendidikan ini menyatakan bahwa kenyataan dan kebenaran itu pada hakekatnya adalah ide-ide atau hal-hal yang berkualitas spiritual. Dalam membicarakan pendidikan maka kita akan mengenal filsafat pendidikan yang dalam pembicaraan tentang filsafat pendidikan tidak dapat dilepaskan dari gagasan kita tentang manusia . Mencari hakekat pendidikan adalah menelusuri manusia itu sendiri sebagai bagaian pendidikan. Melihat pendidikan dan prosesnya kepada manusia, sebetulnya pendidikan itu sendiri adalah sebagai suatu proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berperilaku selayaknya perilaku normal manusia, atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses menjadikan manusia agar memeliki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, manusia dalam makna seutuhnya. Artinya dia menjadi riil manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia . Tugas pokok dan fungsi tersebut adalah sebagai mandataris Tuhan (khalifatullah fi al-Ardhi). Sedangkan menurut Freire hakekat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan seseuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka. Hal senada juga di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa kepribadian siswa menjadi lebih utuh karena kegiatan seni mengimbangi perkembangan logika dengan memperkuat kepekaan rasa, emosi dan imajinasi sebagai bagian mental manusia yang menjadikan manusia lebih manusiawi.(Ki Hajar Dewantoro)

Tinjauan menganai filsafat pendidikan realistis menurut asfek ontologi menunjukan bahwa pendidikan itu seyogyanya mengutamakan perhatian peserta didik seperti apa adanya, artinya utuh tanpa tereduksi. Jadi peserta didik adalah individu yang menjadi sasaran untuk dipelajari apa adanya. Dalam hubungan ini adanya ilmu-ilmu bantu yang termasuk kedalam lingkungan sosial budaya dan sebagainya untuk mendapat perhatian sebagai landasan pendidikan.

C. Tujuan Pendidikan

Tujuan dari pendeskripsian filsafat pendidikan adalah untuk mengetahui dan memahami makna pendidikan dan filsafat pendidikan, sistem, aliran dan berbagai masalah filosofis tentang pendidikan. Selanjutnya seberapa jauh filsafat pendidikan dapat memberikan bekal yang mampu berfungsi direktif mengenai pemikiran tentan pendidikan.

Dalam tujuan pendidikan nasional untuk melaksanakan pendidikan dengan UU sisdiknas. Dengan rambu-rambu pelaksanaan pembelajaran dengan kurikulum, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 19) kejuruan. Hal ini sejalan dengan arah reformasi pendidikan kejuruan yang sedang dilaksanakan dewasa ini, yang pada intinya dimaksudkan untuk menghilangkan jarak diantara kedua dunia tersebut, sehingga terjadi dialog yang mengarah pada peningkatan mutu sekolah. Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Banyak sekali sebetulnya apa yang dikemukakan oleh para ahli tentang pendidikan tapi kesemuanya pada esensinya sama dengan di atas. Selain itu bahwa pendidikan itu juga untuk menyempurnakan akhlaq manusia.

D. Estetika gunungan wayang

Gunungan atau kayon dalam wayang memegang peranan sentral. Bentuk gunungan dapat dilihat secara struktur menjadi tiga bagian, yakni bagian puncak, bagian tengah dan bagian paling bawah palemahan (tanah, bumi) bagian atas berbentuk meruncing keatas, mulai dari bagian tengah yang disebut genukan (menyembul) dan lengkeh (ceruk). Kemudian didapatkan bagian struktur bawah yang tipis dan rata. Bagian paling bawah yang digambarkan amat tipis dan kecil hampir tidak menarik perhatian adalah lambang dunia fana. Hidup manusia terdiri dari asfek jasmani dan asfek roh, keduanya menyatu dan tak terpisahkan roh yang terpisah dari badan dengan sendirinya mengakhiri hidup didunia yang serba material ini. Gambaran tentang ini dengan jelas lewat struktur bentuk dan wujud gunungan wayang. Dengan demikian gunungan wayang adalah lambang atau gambaran dari dunia mistik manusia dunia yang mengantarkan manusia memasuki alam diluar alam material dunia ini. Gunungan adalah roh itu sendiri, gunungan adalah mistik, gunungan adalah gambaran pengalaman transendental manusia.

Struktur yang kedua adalah genukan atau lengkeh yakni bagian menonjol dari wujud gunungan yang kebulat-bulatan, inilah gambaran dunia tengah atau medium kerohanian itu. Struktur tengah ini diisi dengan gambar bangunan rumah beratap dengan kedua pintu tertutup. Bangunan kecil tertutup ini selalu dijaga oleh dua raksasa penjaga yang mengingatkan orang akan arca dwarapala atau raksasa penjaga pintu masuk candi-candi di Jawa. Ini menunjukan bangunan suci seperti halnya orang akan memasuki candi inilah alasan arah bawah diberi tangga bertingkat. Sementara itu bagian kiri dan kanan bengunan digambarkan sayap-sayap dua ekor burung garuda yang mengembang, yang mendesak bagian gunungan itu menyembul kekiri dan kekanan sebagai genukan. Inilah lambang penghubung antara duania manusia dan dunia roh merupakan kendaraan roh manusia memasuki dunia atas atau dunia roh. Struktur teratas gunungan adalah bagian puncak dimulai dari batas teratas sayap garuda. Atap bangunan struktur atas ini diakhiri puncaknya yang meruncing berupa kuncup bunga . Struktur ini, pada bagian batang pohonya, digambari dengan kepala raksasa yang lidahnya menjulur keluar yang disebut banaspati, ini melambangkan kesucian. Struktur dunia ats ini dunia sakral inilah dunia rohani manusia. Bagian paling bawah sering digambari dua ekor binatang yang saling berhadapan biasanya banteng dan macan itulah unsur antagonistik atau konplik dalam kosmos juga dalam jiwa manusia. Kalau sudah tercapai rohani manusia dapat meningkat ketahap rohani berikutnya yang lebih tinggi. Inilah sebabnya mengapa dahan berikutnya dari pohon kehidupan tersebut digambarkan binatang dunia diatas pepohonan yakni monyet. Dikanan dan dikiri hanya sepasang monyet tak ada konplik lagi. Dan pada dahan berikutnya unsur puncak digambarkan burung-burung yang serupa yang harmonis tak ada konplik lagi. Inilah tingkat yang lebih halus lebih tinggi dari pada tingkat kerohanian manusia. Dan pada puncaknya kita menemukan tunas bunga yang meruncing. Tunas bunga adalah awal kehidupan juga akir kehidupan karena pada masa ini manusia akan memasuki hidup baru yang abadi, yang mutlak dan sama sekali abstrak. Dan disebut akhir kehidupan karena terdapat dibagian paling ujung dari gunungan, sedangkan gunungan itu sendiri dimulai dari palemahan(bumi) yang ada dibagian paling bawah. Inilah sangkan paran manusia asal dan tujuan manusia didunia ini. Manusia mengakiri hidup duniawi dipuncak gunungan. Tunas bunga dipuncak gunungan adalah lambang kematian jasad ragawi manusia. Dibalik itu ada dunia abadi, dunia diluar gunungan itu sendiri, yakni layar putih pertunjukan wayang.

Jelas bahwa gunungan dalam wayang kulit merupakan lambang kosmosmistis. Gunungan mempunyai makna spiritual yang mendalam yang menyangkut sendi-sendi terdalam rohani, manusia meskipun dalam praktek pertunjukan wayang.  

E. Makna estetika gunungan wayang dalam filsafat pendidikan

Gunungan pada jaman Hindu dan Budha masih berupa pohon hayat atau kayon, pohon hayat sebagai poros kosmos, sebagai lambang pencapaian dunia atas, dunia roh, masih mewarnai mistis Hindu dan Budaha. Pada jaman Demak, jaman Islam, kedua konsep mistis dengan lambang masing-masng itu yakni gunung dan pohon, disatukan gunungan juga menjadi kayon. Gununan sekarang kita warisi bentuk maknanya itu masih banyak memuat unsur-unsur Hindu dan Budha dari pada unsur keislamanya. Hal ini tidak terlalu mengherankan karena pertunjukan wayang sendiri bersifat Hinduistis, dan itu diwarisi dan digemari oleh masyarakat sampai sekarang. Pertunjukan ini ternyata tidak bertentangan secara esensial dengan agama islam yang kemudian masuk, yakni agama islam pada jamanya, yakni abad ke-19, masih tebal asfek taswufnya. Dengan demikian, secara esensial mengandung unsur primodial budaya. Dalam Islam konsep rohani Hindu-Budha itu tetap hidup dalam gunungan, meskipun konsep dasar agama ini adalah keselarasan antara kepentingan rohani dan kepentingan duniawi. Itulah makna simbolik dari bentuk gunungan wayang.

Dengan meperhatikan harapan Ki Hajar Dewantara tentang masyarakat yang ideal, seyogyanya asfek-asfek spiritual dan keronian digunakan sebagai pegangan untuk mengamati dan mengembangkan pendidikan dalam kaitan dengan lingkungan sosial.

Keberadaan individu dan masyarakat, baik masyarakat dalam arti mikro dan makro, selalu dilingkupi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dewasa ini sudah mengalami perubahan dan peningkatan. Oleh karena itu dalam perkembanganya, individu tersebut selain mengalami kontinuitas, sewaktu-waktu dapat juga mengalami diskontinuitas.

Sejalan dengan pandangan bahwa masyarakat sekarang ini dapat diumpamakan sebagai the lonely crowd, dewasa ini sangat sulit diidentifikasi kemurnian masyarakat patembayan (gemeinschaf). Yang dapat dijumpai sekarang ini adalah masyarakat campuran.

Bila seorang masyarakat individu mengalami konformitas yang terlalu kuat, lebih-lebih bila merupakan hasil pendidikan maka bila individu tersebut akan mencapai tingkat perkembangan adolesens biasanya suka melawan keadaan yang sudah mapan. Oleh karena itu dalam menanamkan nilai-nilai, metode yang digunakan adalah dresur saad peserta didik masih muda. Namun hendaknya berangsur-angsur diubah atau diperlonggar bila peserta didik akan mencapai adolesensi sehingga sikap konformitas itu berlangsung secara alami, yaitu sesuai dengan kesadaran perlunya melakukan konformitas tersebut. Semua itu berlangsung sesuai dengan pemilihan yang bersangkutan. Memperkecil konformitas dapat berarti memperbesar terbentuknya kepribadian dan kemandirian pada peserta didik.

Keluarga sebagai pusat pendidikan, hendaknya berfungsi sebagai sekolah kedua. Selain keduanya perlu mempunyai hubungan yang baik, hendaknya saling mengisi hal-hal yang penting bagi keperluan utama yaitu proses belajar peserta didik.

Penanaman rasa kebangsaan, terbentuknya pribadi yang berkemandirian, serta tumbuhnya kreativitas pada peserta didik diharapkan menjadi bagian-bagian pendidikan yang penting untuk mencegah terbawanya peserta didik yang penting untuk mencegah terbawanya peseta didik oleh arus globalisasi yang negatif. Namun pendidikan hendaknya tetap menggunakan dasar pijak, baik dalam ruang lingkup mikro maupun makro.

Sistem pembelajaran yang meninggalkan sitim suap adalah sitem pembelajaran yang peran guru dinyatakan dengan jelas.

  1. Di mana peran guru sebagai “organisator”, dan apa yang dilakukan guru
  2. Di mana peran guru sebagai “motivaor”, dalam peran apa kinerja itu dapat ditunjukkan.
  3. Di mana peran guru sebagai “evaluator”
  4. Di mana peran guru sebagai “pembimbing”, “pengarah”, dan “pembantu” siswa.
  5. Di mana peran guru sebagai fasilitator

Hal-hal itu bila di dalam proses pembelajaran dipadukan dengan makna estetika genungan wayang maka terjadi interaksi sbb:

bagan gunungan

  1. Interaksi Proses Belajar Mengajar selalu terjadi justru antara siswa dengan objek/persoalan belajar
  2. Hubungan guru-siswa berkaitan dengan peran guru sebagai fasilitator, motivator, evaluator, dan organisator, dilakukan bila perlu, tidak terkait dengan semua anak.

REFERENSI :

  • Barnadib, Imam. 2002. Filsafat Pendidikan Yogyakarta, Adicita Karya Nusa
  • Sumarjo, Jakop. 2000. Filsafat Seni Bandung : Penerbit ITB
  • Djohar, 2010. Filsafat Pendidikan Proses Pembelajaran: UST Yogyakarta

 

BIODATA PENULIS

 

    Nama lengkap                : Drs. Marsudi, M.Pd.

    Nip.                                :1965 0124199412 1003  

    Status                            : PNS

    Jenis Kelamin                : Pria

    Agama                          : Islam

    Jabatan                         : Widyaiswara Madya

    Pendidikan                     : Pasca Sarjana (Manajemen Pendidikan)

   Alamat Kantor                : Jln. Kaliurang KM. 12.5, Klidon,   Sukoharjo, Ngaglik, Sleman,Yogyakarta

   Alamat Rumah                : RT.04. RW.11 Kandangsari, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta

   No.Tlp, HP, Email             : 0274 896165 / HP.08125248905,  Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya


 

Memupuk Nilai Persatuan melalui Pendidikan Seni Budaya Berkelanjutan

Surel Cetak PDF
Untitled document Sleman : Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sejak dahulu dibanggakan dan dipertahankan seluruh rakyat Indonesia , kini sedikit rapuh akibat mulai menurunnya rasa kesatuan dan persatuan di antara rakyat Indonesia. Isu suku, agama, ras dan antar golongan yang belakangan muncul, menjadikan keprihatinan sejumlah masyarakat, termasuk kalangan pendidik dan Tenaga Kependidikan. Salah satunya dirasakan oleh Drs. Parwiyanto , Kepala SDN Randusari, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Selengkapnya...

Seri Membangun Karakter - Menjadi Trend Setter (Bag 3).

Surel Cetak PDF

Oleh: Irene Nusanti

Stand-OutSebagai kelanjutan dari dua ‘seri membangun karakter’ sebelumnya, yaitu ‘Mengubah Pendidikan Karakter menjadi Ilmu Memotivasi Diri (1)’ dan ‘Tetap Berdampak di tengah Keadaan serba Sulit (2)’, adalah ‘seri membangun karakter yang diberi judul ‘Menjadi Trend Setter (3)’. Pada artikel ini, peserta diklat diajak untuk memahami bahwa orang lebih suka untuk mengikuti pikiran kebanyakan orang dari pada pikirannya sendiri, karena lebih populer (Maxwell, 2009: hal 84). Jika dibiarkan terus menerus, maka hal ini akan menjadi masalah besar karena potensi diri tidak dapat dikembangkan secara maksimal dan jati diri tidak akan kelihatan menonjol. Hal ini tentu saja bertentangan dengan inti dari pendidikan. (P4TKSB)

Selengkapnya...

Belajar Musik Perlu Mempertimbangkan Bakat dan Minat

Surel Cetak PDF

belajar musikOleh: F Dhanang Guritno

Musik dewasa ini menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Pada beberapa refrensi, musik dianggap sebagai penyeimbang kemampuan otak kanan dan otak kiri. Musik juga dianggap sebagai sesuatu yang punya andil bagi perkembangan kecerdasan anak. Dalam kehidupan sehari-hari manusia sekarang ini tidak pernah lepas dari musik, seni yang mediumnya berupa bunyi-bunyian. Selain sekedar didengar, musik juga sangat diminati orang untuk dimainkan. Dari situlah timbul keinginan orang untuk belajar memainkannya.

Selengkapnya...

Antara Rongsok Dan Lawas

Surel Cetak PDF

 

hasil daur ulangOleh : Sumiyarsih

“RONGSOKAN" itulah sebutan orang-orang yang kurang memahami cerita, sejarah, arti, jasa, dan nilai serta kegunaan suatu benda. Bagimu mungkin dia "RONGSOK" tapi bagiku dia "BERNILAI", bagimu dia "SAMPAH" tapi bagiku dia "BERGUNA".

Rongsokan ada bermacam-macam jenisnya, antara lain rongsokan dari besi, kayu, logam, batik, kertas dan masih banyak lagi. Rongsokan bisa dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai seni dan nilai jual.

Desain interior bergaya rustic mungkin masih terdengar asing dan belum populer di Indonesia, lain halnya dengan di negara lain yang sudah banyak menerapkan desain bergaya rustic. Desain interior bergaya rustic menekankan pada kekayaan alam, karena inspirasinya memang datang dari alam liar yang masih belum tersentuh tangan manusia.

Selengkapnya...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL