P4TKSB - P4TK SENI DAN BUDAYA YOGYAKARTA-

Majulah Seni Budaya Indonesia

Berita:
You are here: Home
Perbedaan Desain Batik Kawung Klasik dan Batik Kawung Modern

Perbedaan Desain Batik Kawung Klasik dan Batik Kawung Modern

Oleh: Tri Suerni

Batik adalah kain tekstil hasil pewarnaan celup-rintang menurut ragam hias khas bati...

Inovasi Produk Sepatu Pantofel

Inovasi Produk Sepatu Pantofel

Oleh: Supriyanta Tyas Purnomo

Sepatu Pantofel biasanya dipakai oleh kalangan anak muda dan dewasa, ba...

Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Kelud Untuk Mengembangkan Badan Keramik Stoneware Tanah Liat Sukabumi

Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Kelud Untuk Mengembangkan Badan Keramik Stoneware Tanah Liat Sukabumi

Oleh: Wahyu Gatot Budiyanto

P e ngembangan badan keramik stoneware bakaran menengah dilakukan pada tanah ...

Evaluasi Dampak Diklat Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru Instruktur Mapel Prakarya SMP

Evaluasi Dampak Diklat Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru Instruktur Mapel Prakarya SMP

Oleh: Winarto

Pada penelitian ini yang menjadi subyek penelitian sekaligus responden  adalah pes...

Penyiapan massa Cetak Tuang keramik

Penyiapan massa Cetak Tuang keramik

Oleh: Fajar Prasudi

Massa cetak tuang dari bahan tanah liat sangat dibutuhkan untuk membuat produk ke...

Seminar Sehari

Seminar Sehari

Seminar Sehari

"Apresiasi Seni Nusantara" diselenggarakan di Ruang Gatotkaca pada tanggal 7 Juli 2015...

Strategi Self-Talk  Sebuah Kajian Singkat untuk Mengembangkan Komunikasi Pembelajaran dalam Sebuah Pelatihan

Strategi Self-Talk Sebuah Kajian Singkat untuk Mengembangkan Komunikasi Pembelajaran dalam Sebuah Pelatihan

Oleh: Irene Nusanti

Komunikasi merupakan hal yang penting dan dapat menunjang keberhasilan suatu dikl...

Teknik Pembuatan Ikat Celup dan Pewarnaan

Teknik Pembuatan Ikat Celup dan Pewarnaan

Oleh: Wiwik Pudiastuti

Di Indonesia kain jumputan dikenal dengan nama nama yang berbeda-beda, masyara...

Tari Angsa Sebagai Materi Pembelajaran Diklat Seni Budaya Sekolah Dasar

Tari Angsa Sebagai Materi Pembelajaran Diklat Seni Budaya Sekolah Dasar

Oleh: Lilin Candrawati S.

Kata angsa berasal dari Bahasa Sansekerta, dalam Bahasa Inggris persamaanny...

Audit Mutu Eksternal (Surveillance Audit) tahun 2015  di PPPPTK Seni dan Budaya

Audit Mutu Eksternal (Surveillance Audit) tahun 2015 di PPPPTK Seni dan Budaya

Staf Studio Kriya Kulit sedang memperagakan cara menggunakan salahsatu mesin produksi Pada hari Senin...

Materi Penyusunan Komposisi Tari Berpasangan

Materi Penyusunan Komposisi Tari Berpasangan

 

Oleh: G.S. Darto

Komposisi tari atau yang dikenal dengan istilah Koreografi merupakan hal sanga...

Model Desain Gerak Tari Kelompok

Model Desain Gerak Tari Kelompok

Oleh: G.S. Darto

Gerak merupakan substansi ( bahan baku ) dalam desain tari kelompok, sehingga selaya...

Tugas Kinerja dan Rublik Sebagai Strategi Pembelajaran Diklat Implementasi Kurikulum 2013

Tugas Kinerja dan Rublik Sebagai Strategi Pembelajaran Diklat Implementasi Kurikulum 2013

 

Oleh: Winarto

ilustrasi: ibnufajar75.wordpress.com Implementasi Kurikulum 2013 menuntut perubaha...

Penerapan Ornamen pada Produk Aksesoris Kulit

Penerapan Ornamen pada Produk Aksesoris Kulit

Oleh: Marsudi

Produk kriya yang bersifat manual banyak digemari konumen dengan kreatifitas p embuatan ...

Alternatif Penggati Bleng Dalam Pembuatan  Makanan Dengan Menggunakan Rumput Laut

Alternatif Penggati Bleng Dalam Pembuatan Makanan Dengan Menggunakan Rumput Laut

Oleh: Dwi Sayekti

Kesehatan merupakan dambaan bagi  semua orang  berbagai upaya dilakukan&n...

Pengembangan Media Pembelajaran dengan Menggunakan Bahan Daur Ulang (Recycle) untuk Pembelajaran Mata Pelajaran Desain Produk di SMK Negeri 1 Kalasan

Pengembangan Media Pembelajaran dengan Menggunakan Bahan Daur Ulang (Recycle) untuk Pembelajaran Mata Pelajaran Desain Produk di SMK Negeri 1 Kalasan

Oleh: Sri Karyono

Judul penelitian dan pengembangan ini adalah Pengembangan Media Pembelajaran Dengan...

Tari Serimpi

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 24
JelekBagus 

Tari Serimpi adalah jenis tarian tradisional Daerah Jawa Tengah. Tarian ini diperagakan oleh empat orang penari yang semuanya adalah wanita. Jumlah ini sesuai dengan arti kata serimpi yang berarti 4. Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi empat penari sebagai simbol dari empat penjuru mata angin yakni Toya (air), Grama (api), Angin(udara) dan Bumi (tanah). Sedangkan nama peranannya adalah Batak, Gulu, Dhada dan Buncit yang melambangkan tiang Pendopo.



Nama serimpi sendiri oleh Dr. Priyono dikaitkan dengan akar kata “impi” atau mimpi. Gerakan lemah gemulai tarian serimpi yang berdurasi ¾ hingga 1 jam itu dianggap mampu membawa para penonton ke alam lain (alam mimpi). Konon, munculnya tari Serimpi berawal dari masa kejayaan Kerajaan Mataram, saat Sultan Agung memerintah antara 1613-1646. Dan tarian ini dianggap sakral karena hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton sebagai ritual kenegaraan hingga peringatan Naik Takhta Sultan.

Namun pada tahun 1775, ketika Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta, tari serimpipun kemudian terbagi menjadi dua aliran yakni gaya Kesultanan Yogyakarta dan Gaya Kesultanan Surakarta. Tari Serimpi di Kesultanan Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, Serimpi Genjung. Sedangkan di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Bondan.

Sebagai tari klasik di kalangan istana Yogyakarta, Tari Serimpi telah menjadi seni yang adhiluhung serta dianggap sebagai pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada Tari Serimpi menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan yakni antara baik dan buruk, benar dan salah, akal manusia dan nafsu manusia. Ekspresi peperangan dalam tarian ini terlihat jelas dalam gerakan yang sama dari dua pasang prajurit ditunjang properti berupa senjata antara lain keris kecil atau cundrik, jebeng, tombak, jemparing dan pistol.

Kostum yang digunakan adalah kostum pengantin puteri Kraton Yogyakarta yakni dengan dodotan dan gelung bokor sebagai motif hiasan kepala. Namun seiring perkembangan jaman telah beralih menggunakan “kain seredan” dan baju tanpa lengan dengan hiasan kepala berjumbai bulu burung kasuari serta gelung dengan ornamen bunga ceplok dan jebehan.(Sumarti)


Sumber : media online



Learning Portfolio dalam Pembelajaran Diklat

Learning Portfolio dalam Pembelajaran Diklat

Oleh: Irene Nusanti

Learning portfolio merupakan sal...

Selengkapnya...
Teknik Dasar Membuat Anyaman

Teknik Dasar Membuat Anyaman

Oleh: Wiwik Pudiastuti

Kerajinan anyam merupakan sa...

Selengkapnya...
Alternatif Penggati Bleng Dalam Pembuatan  Makanan Dengan Menggunakan Rumput Laut

Alternatif Penggati Bleng Dalam Pembuatan Makanan Dengan Menggunakan Rumput Laut

Oleh: Dwi Sayekti

Kesehatan merupakan dambaan bagi ...

Selengkapnya...
Seminar Sehari

Seminar Sehari

Seminar Sehari

"Apresiasi Seni Nusantara" diselengg...

Selengkapnya...
73 Persen Dana Bantuan Siswa Miskin Siap Disalurkan

73 Persen Dana Bantuan Siswa Miskin Siap Disalurkan

ilustrasi foto: berita21.com Jakarta--Sebanyak 73 p...
Selengkapnya...
Input Data Tunjangan Profesi Pendidik Ditunggu Hingga 31 Mei 2014

Input Data Tunjangan Profesi Pendidik Ditunggu Hingga 31 Mei 2014



Bandung,Kemdikbud—Para guru yang sampai saat ini b...

Selengkapnya...
Tari Sintren

Tari Sintren

Untitled document

Sintren adalan kesenian tari trad...

Selengkapnya...
Mendikbud : Perkuat Bahasa Indonesia di Percaturan Internasional

Mendikbud : Perkuat Bahasa Indonesia di Percaturan Internasional

Jakarta--Posisi Indonesia di kancah global semakin...
Selengkapnya...
Serunai

Serunai

Serunai, atau juga disebut puput serunai, adalah n...

Selengkapnya...

Chat dengan P4TKSB

Klik tombol Login with Facebook untuk chat dengan P4TKSB.
Login With Facebook

YM

Untitled document
Rahma:
Didik: