Fungsi Seni Karawitan dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Para mahasiswa Universitas PGRI Madiun belajar karawitan di P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta

Seni
Typography
Seni Karawitan (gamelan Jawa) adalah suatu pernyataan musikal yang mempunyai bentuk kompleks dan perkembangan yang tinggi. Fungsi seni karawitan yang sangat menonjol adalah sebagai sarana komunikasi. Suatu bentuk seni yang berbobot harus mampu menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan baik. Pesan atau makna suatu karya seni tidak akan sampai ke dalam hati apabila komunikasinya kurang efektif, hubungan antara karya dan yang menyaksikannya menjadi kurang mantap. Dalam konteks komunikasi, seni karawitan dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif, baik secara vertikal maupun horisontal.
Secara vertikal, terwadahi dalam bentuk gending dengan berbagai karakter yang oleh sebagian masyarakat dapat digunakan sebagai sarana komunikasi dengan sang Pencipta. Secara horisontal, komunikasi pada seni karawitan tercermin dari hasil sajian yang merupakan hasil kerjasama antar unsur yang ada pada seni karawitan, bersifat kolektif, saling mendukung untuk memberi tempat berekspresi sesuai dengan hak dan kewajibannya. Hal ini sesuai dengan pola hidup masyarakat Jawa yang sebagian besar menganut asas gotong-royong, lebih mengutamakan kebersamaan.
 
Seni karawitan dalam penyajiannya merupakan hasil perpaduan antara permainan instrumen dengan instrumen, instrumen dengan vokal, serta berlaras slendro, dan atau pelog. Di Jawa, khususnya daerah Surakarta dan Yogyakarta, kumpulan instrumen dengan nada yang berlaras slendro, dan atau pelog dinamakan gamelan. Alat musik tradisional ini biasa digunakan sebagai pelengkap berbagai kegiatan ritual, kesenian, dan hiburan oleh masyarakat. Gamelan berasal dari kata gamel yang artinya pukul, sehingga gamelan dapat diartikan instrumen yang berbunyinya dengan cara dipukul. Apabila tinjauannya mengenai maknanya, maka gamelan berarti kelompok-kelompok instrumen yang membentuk kesatuan jenis tabuhan.
PENDAHULUAN
Sebagai salah satu bidang dari kebudayaan, kedudukan seni dalam masyarakat tidak kalah pentingnya dengan bidang-bidang lain. Kesenian selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Kesenian selalu melekat pada kehidupan setiap manusia, dimana ada manusia disitu ada kesenian (Driyarkara: 1980: p. 8). Dengan demikian antara seni dengan manusia tidak dapat dipisahkan, keduanya saling membutuhkan. Manusia membutuhkan seni untuk keperluan hidupnya, sedang seni membutuhkan manusia sebagai pendukungnya. Sebagai pendukungnya, diharapkan manusia dapat melestarikan dan mengembangkan melalui karya-karya baru yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi jaman. Disadari atau tidak, dalam mengembangkan suatu bentuk kesenian tidak akan lepas, dan selalu bersinggungan dengan aspek-aspek lain, seperti sosial, ekonomi, kepercayaan, adat-istiadat, dan lain sebagainya.
 
Dewasa ini, kesenian tidak selalu menduduki tempat yang sama dalam kehidupan masyarakat. Presepsi dan kegemaran bentuk kesenian antara daerah yang satu dengan lainnya berbeda. Peran perubahan sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia ikut menentukan keberadaan suatu bentuk seni. Sebagai pemegang hak atas mati dan hidupnya suatu bentuk seni, manusia berhak menciptakan, melestarikan, dan mengembangkan bentuk-bentuk seni yang disesuaikan dengan kondisi dimana dan kapan ia hidup. Dengan demikian, selama manusia hidup dan berpikir, seni tidak akan pernah mati, melainkan turun-temurun, berputar mengikuti perkembangan jaman, sesuai dengan kodrat dan hidup manusia. Hal ini sesuai dengan sifat kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic, yaitu kebudayaan yang tetap hidup terus, dan turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya, walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran (Soerjono Soekanto: 1990: p. 188).
Dahulu ketika berada dalam kekuasaan kerajaan, maka segala bentuk, pola kehidupan masyarakat banyak diatur oleh kerajaan. Kedudukan seorang raja sebagai pemimpin akan menentukan nasib segalanya. Ketika seorang raja bersabda, maka segalanya akan berubah, termasuk didalamnya adalah kesenian. Sekarang ketika kerajaan sudah berkurang kekuasaannya, maka kehidupan masyarakat termasuk di dalamnya bentuk-bentuk seni, bebas untuk melakukan aktifitas. Seakan bebas dari belenggu, maka bentuk-bentuk seni pasca jaman kerajaan terkesan mulai saling menyapa, dan bergaul. Kehidupan kesenian di dalam kraton sudah tidak dimonopoli bentuk-bentuk seni istana. Bahkan, dalam acara-acara tertentu, bentuk-bentuk seni produk non kraton sudah terbiasa merambah masuk, dan dinikmati oleh masyarakat kraton (lingkungan istana). Alkulturasi akhirnya menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga eksistensinya.
 
Perubahan kondisi tersebut mengakibatkan banyak hal, salah satunya orientasi seniman dalam berkarya bergeser. Dahulu dalam berkarya seorang seniman selalu terbawa oleh kewenangan seorang raja, bahkan tidak sedikit karya-karya seni yang dipersembahkan kepada raja, sehingga banyak karya seni yang penciptanya diatasnamakan raja yang berkuasa pada saat itu. Sekarang, dalam berkarya seorang seniman tidak hanya berorientasi pada penguasa saja, melainkan masyarakat sebagai konsumen mendapatkan prioritas yang sama, karena masyarakatpun mempunyai kewenangan untuk menentukan bentuk, pengakuan, dan penghargaan akan legalitas suatu karya seni. Namun demikian tidaklah mudah seorang seniman untuk selalu mengikuti keinginan masyarakat “pasar”. Dengan berorientasi pada keinginan masyarakat kadangkala membuat seorang seniman menjadi dilematis. Tidak menutup kemungkinan karyanya bersifat tidak orisinal, tidak sesuai emosi jiwanya, tetapi lebih pada kebutuhan pasar, bahkan banyak pula yang lebih pada tuntutan ekonomi.
 
PERMASALAHAN
Pada dasarnya manusia hidup memerlukan santapan jasmani dan rohani. Santapan jasmani merupakan kebutuhan hidup sehari-hari dalam bentuk lahiriah, sedang santapan rokani diperuntukkan bagi jiwa manusia yang berkaitan erat dengan perasaan. Manusia menggunakan perasaannya untuk menentukan sesuatu yang dilihat dan didengar itu baik atau buruk. Bahkan melalui perasaan dapat menghasilkan suatu sifat keindahan, keluhuran, dan lain sebagainya. Dalam berbagai pandangan dan pendapat, banyak yang menyebutkan bahwa apabila kita berbicara masalah keindahan kiranya tidak akan lepas dari seni, karena seni itu sebagai suatu produk kehalusan yang indah-indah (Soedarso, Sp.: 1976: p. 14).
 
Sebenarnya pandangan tersebut di atas bukan suatu hal yang mutlak. Dalam keseharian kadang terjadi kekeliruan presepsi kita tentang seni, karena kurang ajegnya penggunaan/pemaknaan kata-kata seni dan keindahan. Banyak yang beranggapan bahwa semua yang indah adalah seni, atau sebaliknya, bahwa semua seni itu indah. Apabila seni sebagai ekspresi jiwa, maka suatu bentuk seni tidaklah mesti menampakkan keindahan bentuknya, tetapi yang nampak adalah rasa keindahan dari penciptanya. Semua berawal dari bagaimana perasaan yang ada pada pencipta ketika menciptakan suatu karyanya. Disamping itu anggapan tentang indahnya suatu bentuk seni tergantung juga pada penikmat. Apabila suatu karya seni sudah berada di tengah-tengah masyarakat, maka sedikit banyak legalitasnya akan tergantung pada masyarakat. Bagaimana masyarakat menerima dan menghargai suatu karya seni menjadi sangat penting. Dengan demikian suatu karya seni bukanlah milik pribadi penciptanya, melainkan sudah menjadi milik masyarakat penikmatnya, sehingga keindahan atau eksistensi suatu karya seni tergantung kepada masyarakat.
 
PEMBAHASAN
Seni Karawitan sebagai salah satu cabang seni yang hidup, bertahan, dan berkembang di Jawa (Indonesia), mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Baik dipandang dari sisi tekstual maupun kontekstual, seni karawitan selalu berhubungan erat dengan masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai peristiwa yang ditandai oleh musik “karawitan” yang dapat membangkitkan kebersamaan warganya dan mengingatkan kesatuan mereka (Sumarsam: 2003: p. 2).
 
Sebagaimana diketahui, bahwa seni karawitan oleh dunia sudah diakui keberadaannya, dan merupakan salah satu dari jenis-jenis musik yang ada di muka bumi. Seni karawitan (gamelan Jawa) adalah salah satu pernyataan musikal yang mempunyai bentuk kompleks dan perkembangan yang tinggi. Kedudukan musik Jawa tadi mempunyai arti yang penting dan dalam bagi kehidupan orang-orang yang memupuk tari Jawa, teater Jawa (seperti wayang wong, wayang kulit, kethoprak), kesusasteraan, adat-istiadat, kepercayaan, dan naluri (Mantle Hood: 1958: p.9).
 
Seni karawitan, dalam penyajiannya merupakan hasil perpaduan antara permainan instrumen dengan instrumen, instrumen dengan vokal, serta berlaras slendro, dan atau pelog. Di Jawa, khususnya daerah Surakarta dan Yogyakarta, kumpulan instrumen dengan nada yang berlaras slendro, dan atau pelog dinamakan gamelan. Alat musik tradisional ini biasa digunakan sebagai pelengkap berbagai kegiatan ritual, kesenian, dan hiburan oleh masyarakat (Bram Palgunadi: 2002: p. 1).
 
Gamelan dalam percaturan dunia biasa digunakan untuk menyebut karawitan. Sehingga gamelan tidak diartikan sebatas sebagai kumpulan berbagai instrumen saja, melainkan dapat dikaitkan dengan masalah musikalitasnya. Bruno Netll, seorang musikolog dan juga etnomusikolog dunia mengartikan gamelan sebagai “… the chime orchestra and the kind of relationship among instruments in an ansamble thet characterize its most complex form …”. Kurang lebih pernyataan tersebut mengartikan gamelan sebagai satu kesatuan sistem musik yang terdiri atas berbagai karakter dan memiliki bentuk garap yang kompleks. (Waridi: 2003: p. 300). Jadi dalam hal ini antara gamelan dengan seni karawitan dianggap sama. Bagi sebagian masyarakat Jawa pemahaman tersebut dirasakan kurang pas, karena secara visual berbeda. Gamelan hanyalah sebagai alat ekspresi dalam menyajikan gending-gending karawitan, sedangkan karawitan merupakan sistem musik, yang di dalamnya memuat beberapa unsur yang saling berhubungan dan mendukung, diantaranya adalah irama, laya, patet, laras, embat, melodi.
 
Ditinjau dari etimologi, gamelan berasal dari kata gamel yang artinya pukul, sehingga gamelan dapat diartikan instrumen yang berbunyinya dengan cara dipukul. Apabila tinjauannya mengenai maknanya, maka gamelan berarti kelompok-kelompok instrumen yang membentuk kesatuan jenis tabuhan (Soeroso: 1985/1986: p. 2).
 
Kesatuan jenis tabuhan dalam gamelan diwujudkan dalam ricikan yang terdiri dari beberapa kelompok, berbeda baik bentuk, bahan, suara yang dihasilkan, maupun teknik membunyikannya. Berdasarkan teknik membunyikannya, ricikan dalam satu perangkat gamelan ageng gaya Surakarta dan Yogyakarta dibagi menjadi 5 kelompok sebagai berikut: (1) Kelompok pukul, yaitu ricikan yang berbunyinya dengan cara dipukul. Kelompok ini terdiri dari 3 macam, yaitu kelompok bilah, pencon, dan kulit. Kelompok bilah meliputi: gender barung, gender penerus, gambang, slenthem, demung, saron barung, dan saron penerus. Kelompok pencon meliputi: bonang penembung, bonang barung, bonang penerus, kenong, kempul, dan gong. Sedangkan untuk kelompok kulit yaitu ricikan bedhug. Khusus ricikan bedhug sejauh ini hanya berkembang pada Seni Karawitan Gaya Yogyakarta, itupun tidak semua bentuk gending menggunakan; (2) Kelompok tiup, yaitu ricikan yang berbunyinya dengan cara ditiup. Termasuk dalam kelompok ini adalah ricikan suling; (3) Kelompok gesek, yaitu ricikan yang berbunyinya dengan cara digesek. Termasuk dalam kelompok ini adalah ricikan rebab; (4) Kelompok petik, yaitu ricikan yang berbunyinya karena dipetik. Termasuk dalam kelompok ini adalah ricikan siter; clempung dan (5) Kelompok kebuk, yaitu ricikan yang berbunyinya dengan cara dikebuk. Termasuk dalam kelompok ini adalah ricikan kendang ageng (bem), batangan (ciblon dan kosek, dan ketipung).
 
Kelompok-kelompok ricikan tersebut di atas, meskipun mempunyai perbedaan dalam teknik membunyikannya, namun secara umum masyarakat memberi istilah yang sama bagi orang yang sedang memainkan/membunyikan ricikan gamelan, yaitu “menabuh gamelan”, suatu pekerjaan yang mengkombinasikan antara ketrampilan dengan perasaan.
 
Secara visual antara istilah “menabuh” dengan “memukul” sepintas sama, namun tidak demikianlah kenyataannya, antara menabuh dengan memukul ternyata tidak sama. Menabuh dalam karawitan adalah membunyikan ricikan yang keras lirih, dan tekniknya sudah diatur sedemikian rupa, serta menimbulkan suara enak apabila didengarkan, sehingga pengertian menabuh tidak hanya sebagai aktifitas fisik belaka, melainkan sudah harus disertai dengan perasaan. Memukul lebih pada aktifitas fisik belaka, dan cenderung tidak tertentu keras lirih, maupun kriteria suara yang dihasilkan.
 
Berdasarkan sejarah, keberadaan gamelan sudah berabad-abad lamanya, dibuktikan dari tulisan-tulisan, maupun prasasti-prasasti di dinding candi yang ditemukan. Bukti tertua mengenai keberadaan alat-alat musik tradisional Jawa dan berbagai macam bentuk permainannya dapat ditemukan pada piagam Tuk Mas yang bertuliskan huruf Pallawa. Keserdehanaan bentuk, jenis dan fungsinya tentu berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat pada waktu itu. Pada piagam tersebut terdapat gambar sangka-kala, yaitu semacam terompet kuno yang digunakan untuk perlengkapan upacara keagamaan (Bram Palgunadi: Op. Cit.: p. 7).
 
  1. Perkembangan Seni Karawitan
    Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah perkembangan seni karawitan berkaitan erat dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar, seperti Majapahit, dan Mataram. Dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut, gamelan (seni karawitan) mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga menarik para ilmuwan asing untuk mempelajari dan mendokumentasikannya. Banyak penemuan-penemuan hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asing. Sebagian hasil penemuan tersebut selanjutnya digunakan sebagai salah satu referensi dalam mempelajari seni karawitan.

    Perkembangan yang terjadi pada dunia seni karawitan menggambarkan bahwa seni karawitan merupakan suatu produk kebudayaan yang selalu ingin berkembang, menyesuaikan dengan kondisi jaman atau perubahan kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan kodratnya, bahwa seni karawitan sebagaimana cabang seni pertunjukan tradisi lainnya dikategorikan dalam jenis seni komunal, yaitu seni yang lahir dari, oleh, dan untuk masyarakat. Keberadaan dan perkembangannya tergantung pada kondisi masyarakat. Dalam konteks yang lain dapat dikategorikan dalam bentuk seni yang patronage, yaitu seni jenis yang mengabdi kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap sebagai payungnya, sehingga keberadaan dan perkembangannya tergantung pada penguasa.

    Peran Raja sebagai penguasa tunggal sangat menentukan hidup dan matinya suatu bentuk seni. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut seni karawitan, dalam kakawin Negarakertagama puisi abad ke-14 diutarakan, kerajaan Majapahit mempunyai lembaga khusus yang bertanggung jawab mengawasi program seni pertunjukan (Sumarsam: Op. Cit: p. 19).

    Perkembangan seni karawitan berlanjut dengan munculnya Kerajaan Mataram. Pada jaman ini dianggap sebagai tonggak seni karawitan, khususnya untuk gaya Yogyakarta dan Surakarta. Bukan hanya penambahan jenis-jenis gamelan saja, melainkan fungsi seni karawitanpun mengalami perkembangan. Disamping sebagai sarana upacara, seni karawitan juga berfungsi sebagai hiburan. Dahulu seni karawitan produk kraton hanya dapat dinikmati di lingkungan istana saja, selanjutnya karena keterbukaan kraton dan palilah Dalem, seni karawitan produk kraton sudah berbaur dengan masyarakat pendukungnya di luar istana. Realita ini menggambarkan begitu kuatnya peran penguasa dalam menentukan keberadaan suatu bentuk kesenian. “Sabda pandhito ratu” merupakan kebiasaan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan pada saat itu.

    Sebagaimana cabang seni pertunjukan yang lain, eksistensi dan perkembangan seni karawitan di masyarakat, keadaannya, penciptaannya, pelaksanaannya tergantung pada kegiatan para pendukung, dan adat kebiasaan yang berlaku. Popularitas suatu cabang seni bertalian erat dengan kegemaran orang banyak pada suatu waktu, hidup suburnya berkaitan dengan penghargaan, bantuan materiil dari penguasa (Djojokoesoemo, G.P.H.: t.t.: pp. 132-133).

  2. Seni Karawitan dan Masyarakat
    Seni karawitan dan masyarakat ibarat simbiosis mutualisme, keduanya saling ketergantungan, membutuhkan. Perkembangannya sangat tergantung pada perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dewasa ini sebagaian besar masyarakat menganut konsep hidup “ praktis dan ekonomis “, salah satu akibatnya berdampak pada semakin banyaknya gending-gending srambahan yang disajikan dalam suatu hajatan. 

    Dahulu keberadaan gending-gending dalam suatu hajatan menjadi primadona. Orang akan suntuk mendengarkan, menikmati gending-gending ageng, tengahan, disertai dengan minum kopi, merokok, ngobrol kesana kemari sampai menjelang pagi. Sekarang fenomena ini sudah jarang ditemui. Kecenderungannya baik yang punya hajat maupun tamu undangan hanya menyesuaikan dengan kebutuhan acara saat itu. Perubahan yang demikian berdampak pada keberadaan gending-gending ageng, tengahan kurang dikenal masyarakat. Masyarakat sudah mulai meninggalkan gending-gending ageng, tengahan, bahkan sudah tidak mengenal, kalaupun mengenal hanyalah gending-gending srambahan, dolanan, atau kreasi baru. Kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa gending-gending ageng, tengahan sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman, dan kurang dapat berkomunikasi lagi dengan mereka.

    Anggapan tersebut sangatlah kurang tepat, kurang adil. Sebagai salah satu bagian dari produk budaya, seni karawitan mempunyai hak untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, karena memenuhi persyaratan antara lain harus nampak baik secara audio maupun visual. Dengan syarat tersebut seni karawitan dapat memenuhi kriteria sebagai produk budaya yang dapat berkomunikasi dengan masyarakat. Seni karawitan dapat dinikmati secara langsung maupun tidak langsung. Menikmati seni karawitan secara langsung akan mendapat 2 hal, yaitu visual dan audio. Secara visual dapat dilihat bahwa karawitan dimainkan dengan menggunakan seperangkat alat yang disebut gamelan, yang masing-masing instrumennya mempunyai tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri, sedangkan secara audio dapat dirasakan melalui suara merdu gamelan mengalunkan gending-gending dengan karakter yang berbeda, dapat menggambarkan serta mempengaruhi jiwa maupun perasaan seseorang, bahkan dalam lingkup yang lebih besar dapat mempengaruhi masyarakat.
KESIMPULAN
Berdasarkan paparan dimuka, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa fungsi seni karawitan dalam kehidupan masyarakat sangat dominan. Seni karawitan dapat berfungsi sebagai sarana upacara, hiburan. Seni karawitan dengan masyarakat ibarat sekeping uang logam, karawitan selalu ada di dalam jiwa manusia, karena dalam menjalani kehidupannya manusia selalu berirama.
 
Fungsi seni karawitan yang sangat menonjol adalah sebagai sarana komunikasi. Suatu bentuk seni yang berbobot harus mampu menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan baik. Pesan atau makna suatu karya seni tidak akan sampai ke dalam hati sang pengamat apabila komunikasinya kurang efektif, hubungan antara karya dan yang menyaksikannya tidak mantap (A.A.M. Djelantik: 2004: p. 56). Dalam hal ini, seni karawitan dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif, baik secara vertikal maupun horisontal.
 
Secara vertikal, Beberapa gending oleh sebagian masyarakat dapat digunakan sebagai sarana berhubungan dengan sang Pencipta. Dalam konteks yang lain Judith Baker menginterpretasikan bahwa melodi musik jawa (gamelan) mempunyai kaitan erat dengan sistem kepercayaan asta-wara, yaitu siklus kalender bulan dan system pengetahuan Jawa. Siklus ketukan gong dapat dibagi menjadi setengah kenong, seperempat kempul, seperdelapan kethuk, seperenambelas saron, dan sepertigapuluh bonang barung (Zainuddin Fananie: 2000: p. 134).
 
Secara horisontal, komunikasi pada seni karawitan tercermin dari hasil sajian yang merupakan hasil kerjasama antar unsur yang ada pada seni karawitan, bersifat kolektif, saling mendukung untuk memberi tempat berekspresi sesuai dengan hak dan kewajibannya. Hal ini sesuai dengan pola hidup masyarakat Jawa yang sebagian besar menganut asas gotong-royong, lebih mengutamakan kebersamaan.
 
Dalam menyajikannya, para pemain (pengrawit) saling berkomunikasi satu dengan lainnya terwujud dalam permainan instrumen. Disamping itu, banyak terdapat cakepan dalam tembang, baik itu disajikan dengan bentuk gerong, sindhenan, bowo, atau lainnya, yang semuanya memuat ajaran luhur untuk berbuat kebaikan, meskipun banyak yang hanya berupa sanepa, simbol.
 
Simbol-simbol yang ada dalam seni karawitan dapat dikatakan menyerupai filosofi manusia, maupun pola hidup manusia. Penyebutan nada-nada instrumen dalam laras slendro, 1 (Barang), 2 (Gulu/Jangga), 3 (Dhadha), 5 (Lima), 6 (Nem), dan 1 (Barang alit). Nama-nama tersebut penggambaran atau ditafsirkan sebagai bagian organ tubuh manusia. Selain itu nada-nada laras slendro (1,2,3,5,6) apabila kita jumlah menjadi 17. Jumlah tersebut sesuai dengan kewajiban hidup masyarakat penganut agama Islam, yaitu menjalankan sholat wajib sehari semalam 17 rakaat. Misteri angka 17 dalam laras slendro dapat pula dihubungkan dengan peristiwa besar yang terjadi di Indonesia, yaitu terbebasnya negara Indonesia dari penjajah atau merdeka yang jatuh pada tanggal 17 – 8 – 1945. Dari keterangan ini dapat dipahami, bahwa komunikasi tidak hanya menggunakan sesuatu yang berwujud nyata, jelas artinya, tetapi dapat juga dengan bahasa simbol. Komunikasi dapat sebagai aktivitas simbolis, karena aktivitas komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol bermakna yang diubah ke dalam kata-kata (verbal) untuk ditulis dan diucapkan, atau simbol ‘bukan kata-kata verbal’ (non verbal) untuk ‘diperagakan’ (Alo Liliweri: 2003: p. 5).
 
Referensi :
A.A.M., Djelantik, Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: MSPI Bekerjasama dengan Arti, Cetakan ketiga 2004.
Alo Liliweri (2003). Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya, LKiS Yogyakarta
Bram Palgunadi, Serat Kandha Karawitan Jawi, Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2002. Djojokoesoemo, G.P.H., Kesenian Selayang Pandang, Surakarta: Udan Mas, t.t. Driyarkara, Driyarkara Tentang Kebudayaan, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1980.
Mantle Hood, Javanese Gamelan in the World of Music, terj. Hardjo Susilo, Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat, 1958.
Martopangrawit, “Pengetahuan karawitan I”, Surakarta: ASKI Surakarta, 1975.
S. Prawiroatmojo, Bausastra Jawa-Indonesia, Jakarta: P.T. Gunung Agung, 1985.
Soedarso, Sp., Tinjauan Seni Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni, Yogyakarta: Akademi Seni Rupa Indonesia, 1976.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, Edisi Baru Keempat, 1990. Soeroso, “Pengetahuan Karawitan” Laporan Pelaksanaan Penulisan Buku/Diktat Perkuliahan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta: Proyek Peningkatan Pengembangan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 1985/1986.
Sumarsam, Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
 
Penulis:
Kartiman (Widyaiswara P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta)
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS