P4TKSB - P4TK SENI DAN BUDAYA YOGYAKARTA-

Majulah Seni Budaya Indonesia

Berita:
You are here: FSI2014

Daftar Nama Juara Lomba Foto FSI 2014

Surel Cetak PDF

Mulya Yudha (Juara I) , Judul karya “Durga Uma “Dewi”
Hardy Wiratama (Juara II), Judul karya “Persiapan Pentas”
Hamid Mukhlis (Juara III), Judul karya “Jathilan”
Fehmiv Raffytavare (Juara Harapan), Judul karya “The Red”
Afrizal (Juara Harapan), Judul karya “Buka Panggung”
Dora Afriyani (Juara Harapan), Judul karya “Semangat”
Ajar Dwi Jayanto (Juara Harapan), Judul karya “Asylum”
Ditya Fajar Rizkizha (Juara Harapan), Judul karya “Balinese Dance”

Tari Lengger: Dari Wanita Penggendong Tenggok Hingga Bidadari sesaat di Panggung.

Surel Cetak PDF

Yogyakarta:  Seni tidak selamanya membutuhkan kecerdasan atau daya intelegensi khusus, namun demikian seni bisa menjadi salah satu unsur kecerdasan.  Tak sulit bagi seseorang untuk belajar atau menekuni suatu seni, asal ada niat dan kepekaan rasa estetika, itu  sudah lebih dari cukup. Filosofi ini dibuktikan oleh kelompok seni Tari Lengger Magelang, yang mampu mengubah para wanita penggendong tenggok di lereng gunung sumbing, menjadi para bidadari saat di panggung pentas, seperti halnya saat mengisi Pentas Hiburan Rakyat pada acara Festival Seni Internasional 2014 di PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta (6/11).

Selengkapnya...

Kesenian Tari Grasak Gemblung Meramaikan Pentas Hiburan Rakyat

Surel Cetak PDF

 Yogyakarta:  Menjelang Malam Penutupan Festival Seni  Internasional 2014 panggung Pentas Hiburan Rakyat diramaikan oleh penampilan tari grasak.  Penampilan seni tradisionla asal magelang ini acapkali membuat penonton tak kuasa menahan tawa.

Selengkapnya...

Inilah Nama Para Nominator Karya Terbaik Lomba Kreatititas Anak

Surel Cetak PDF

kreatifitas anakYogyakarta : Setelah melalui proses pengamatan mendalam, dan penilain dari dewan juri dengan mempertimbangan sisi kreatifitas, originalitas, dan kepatuhan pada peraturan lomba, hasil rapat diskusi Tim Juri menetapkan, lima nominator karya terbaik Limba Kreatifitas Anak. Lima nominator karya terbaik tersebut yaitu:

Selengkapnya...

Seminar Internasional untuk Membangun Kesadaran Sosial yang Sudah Luntur

Surel Cetak PDF

seminar internasionalProses globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, melahirkan pengaruh masuknya berbagai nilai budaya luar yang langsung maupun tidak langsung  berimplikasi pada bergesernya nilai-nilai budaya yang telah lama terinternalisasi dan diyakini kuat menjadi bagian dari norma dan etika dalam masyarakat.  Penetrasi nilai-nilai baru tersebut tidak sedikit telah menjiwai  dan membentuk karakter diri manusia serta mengantarkannya pada sifat-sifat yang cenderung ke arah perilaku biadab.  Perilaku mementingkan diri sendiri (individualis), perilaku mengejar harta dunia (hedonik), budaya konsumerisme bahkan pada puncak sifat arogansi , dan sederetan panjang  sifat-sifat biadab lainya.

Selengkapnya...

Meski Event Internasional, Seni Tradisional Tetap Diminati

Surel Cetak PDF

ketoprak lesungYogyakarta (6/11), FSI 2014 yang menampilkan pertunjukan dari dalam dan luar negeri selalu mendapat perhatian besar dari masyarakat sekitar. Setiap pertunjukan yang digelar selalu dipadati pengunjung. Meski berskala internasional, FSI tetap memberikan ruang kepada seni tradisional untuk unjuk diri. Seperti halnya Kamis sore (6/11), sanggar Kenari dari Depok Sleman mendapat giliran untuk menampilkan drama tradisional ketoprak lesung. Sebuah drama tradisional yang saat ini sudah jarang terdengar keberadaannya.

Ketropak lesung merupakan drama tradisional berdialog bahasa jawa yang diiringi dengan alat musik tradisional sederhana, yaitu Lesung dan Kendang. Lesung merupakan alat atau tempat untuk menumbuk padi yang terbuat dari sepotong kayu yang besar. Pada waktu dulu ketika para petani melepas lelah setelah seharian bekerja menumbuk padi mereka memukul-mukul lesung untuk mendapatkan irama guna menghibur diri. Aktifitas tersebut kemudian berkembang, dimana irama yang dihasilkan dari suara lesung menjadi iringan dalam pentas drama tradisional yang kemudian orang menyebutkan “Ketropak Lesung”.

Dalam pementasannya di halaman P4TKSB, sanggar Kenari menyuguhkan cerita Joko Bodo dan Joko Wasis. Mengisahkan ikatan persaudaraan dua orang kakak beradik yang sangat erat Joko Bodo dan Joko Wasis. Joko Bodo merupakan seorang adik mengalami keterbelakangan mental (down syndrome), sedangkan Joko Wasis merupakan kakak yang cerdas dan rupawan. Keduanya kakak beradik yang saling setia dan tidak terpisahkan, dimana ada Wasis disitu pula ada Bodo dalam kesehariaanya. Kebersamaan keduanya mulai diuji ketika di dusun tempat mereka tinggal dilanda kekeringan yang panjang, sehingga mengakibatkan kehidupan terasa semakin berat. Wasis ingin memperbaiki kehidupan keluarga dengan mengadu nasib ke kotaraja. Kawatir akan menjadi beban dalam perjalanannya, kepergian Wasis dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bodo ketika dia sedang tidak berada di rumah. Wasis meminta istri dan pamannya untuk merahasiakan kepergiaannya agar Bodo tidak menyusul.

Permasalahan mulai muncul ketika Bodo pulang dan tidak menjumpai Wasis berada di rumah. Dia selalu bertanya dan mendesak kepada ipar dan pamannya agar memberitahukan keberadaan kakaknya Wasis. Karena didesak terur-menerus akhirnya pamannya terpaksa memberitahukan bahwa kakaknya pergi ke kotaraja untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tanpa pikir panjang Bodo pun langsung balik kanan untuk menyusul kakaknya. Di tengah perjalanan Bodo berhasil menemukan Wasis. Namun hal itu membuat Wasis tidak berkenan. Dengan upaya halus Wasis meminta agar Bodo tidak mengikutinya supaya nantinya tidak menjadi gangguan dalam perjalanannya. Bodo berikeras tetap mengikuti kakaknya, karena dia berprinsip keduanya adalah saudara yang tidak dapat dipisahkan kemanapun dan dimanapun. Dimana ada Wasis disitu ada Bodo, demikian prinsip yang selalu dipegangnya. Karena tidak dapat dibujuk dengan cara halus, Wasis terpaksa menggunakan kekerasan untuk mencegah Bodo mengikutinya.

Ketika Bodo ditinggalkan sendirian dalam kesedihan, membuat Dewa merasa iba yang kemudian menjumpainya. Singkat kata, Bodo menceritakan yang dialaminya dari awal hingga dia ditinggal sendirian oleh kakaknya. Terketuk hatinya, Dewa memberikan pusaka “Poncowarno”. Pusaka dalam bentuk bunga yang terdiri dari lima warna. Selama kelima bunga tersebut masih dalam satu kesatuan, maka tak ada kekuatan pusaka lain yang dapat mengalahkannya. Namun kekuatannya akan hilang jika ada kelima bunga tidak bersatu lagi. Dengan berbekal pusaka tersebut Bodo melanjutkan perjalanannya untuk menyusul kakaknya ke kotaraja.

Disisi lain, Kadipaten Medangagung yang dipimpin Adipati Darmonoto sedang dilanda berbagai bencana dan kekacauan yang luar biasa. Adipati Darmonoto meminta kepada patihnya untuk mencari orang yang mampu mencari penyebab sekaligus menghalau kekacauan yang terjadi. Sang patih membawa Wasis kepada adipati sebagai kadindat yang dipercaya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Dari penerawangannya Wasis mengatakan bahwa bencana dan kekacauan yang terjadi adalah ulah para dedemit dan gandaruwa yang merasa terusik karena aktiftas penduduk Medangagung. Terjadilah pertarungan antara Wasis dengan makhluk pengacau. Dengan segala upaya Wasis mengerahkan seluruh kesaktian dan pusakanya untuk menghalau pada dedemit dan gandaruwa. Namun tak sedikitpun membuat membuat mereka terluka, Wasis dikalahkan oleh para dedemit dan gandaruwa. Pada saat yang genting itulah Bodo datang dengan pusaka Poncowarno-nya. Tak memakan waktu lama dedemit dan gandaruwa berhasil dikalahkan dan diusir, sehingga Kadipaten Medangung kembali tenteram dan damai. Kedua kakak berdadik itu pun mendapat kemuliaan dan jabatan dari adipati.

Selama pertunjukan berlangsung masyarakat yang memadati halaman P4TKSB nampak antusias mengikuti setiap jalan cerita yang dilakonkan. Hal ini terlihat mereka enggan beranjak meskipun duduk beralaskan rumput hingga pertunjukan usai. (aginta)

Kolaborasi Teater Gerak Lintas Negara: Kritik Polusi Kota

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 5
JelekBagus 

kolaborasi teaterKritik terhadap polusi kota diungkapkan dalam pertunjukkan kolaborasi teater gerak bertajuk “Our City” yang dimaikan oleh seniman lintas negara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia dan Polandia. Para seniman tersebut memperagakan gerak pembangunan gedung-gedung bertingkat. Sehingga tidak ada lagi lahan kosong untuk beriteraksi bagi mahklup hidup.

Selengkapnya...

Duo Gitar

Surel Cetak PDF

duo gitar“Duo Gitar”, Zoltan Paldi dan Rendra Pangestu unjuk kebolehan gaya penjarian gitar untuk membawakan perpaduan music jazz, blues, folk di Festival Seni Internasional (FSI) 2014. Gitaris asal Hongaria dan Indonesia itu berkolaborasi memaikan lagu-lagu klasik dari Amerika, Afrika, Hongaria dan Indonesia sendiri.

Selengkapnya...

Malin Kundang 'Dikutuk' di P4TK Seni dan Budaya

Surel Cetak PDF

malin kundangDentuman bunyi “Sarawa Galembong” (celana besar) membuka penampilan awal pelajar SMKN 7 Padang, Sumatera Barat. Penonton terkesima. Seakan baru menyadari kalau celana yang digunakan para pemain bisa menciptakan bunyi dan tidak robek. Setiap gelek (gerak) dari pemain, setiap kali kaki melangkah dan komposisi diatur, celana itu dipukul. Kaki sedikit dikangkangi dan telapak tangan memukul  celana. Tepuk tangan pun bersautan memberikan apresiasi.

Inilah awal pementasan “Malin Kundang” pada Festival Seni Internasional (FSI) di P4TK Seni dan Budaya, Sleman, Yogyakarta. Teater berbasis tradisi garapan guru Yurmatias ini mengangkat cerita tentang kemarahan ibu Malin Kundang.

Malin yang sudah menjadi saudagar kaya raya melabuhkan kapalnya di pantai. Di tempat asal kelahirannya. Seketika dilihat orang banyak, langsung disadari kalau kapal yang berlabuh adalah milik putra asli daerah itu. Akan tetapi, Malin tetap kukuh bahwa ia bukanlah Malin Kundang yang dicerita masyarakat. Si Malin yang di masa lalunya hidup susah. Kini pulang dengan kemewahan.

Akibat kesombongannya tersebut, Malin Basilek (bersilat) – mengadu ilmu beladiri dengan ibunya. Lantara sudah tua, ibu Malin pun kalah tersukur. Kaki Malin tepat menendang pundak ibunya.

“Oh Tuhan...!, jika benar ia Malin anakku kutuklah ia menjadi batu,” doa si ibu

Inilah cuplikan teater yang mengangkat cerita legenda si Malin Kundang. “Bukan fisik engkau yang menjadi batu, tapi hati engkau yang membatu,” ungkap seorang pemain.

Para siswa yang tampil dominan dengan properti berwarna hitam, kuning dan merah ini, tampak dengan cekatan mengatur gerak. Tidak saja memukul “sarawa galembong”, tetapi gerakkan silat juga diperaga. Musik tradisi minang; talempong, gandang dan pupuik padi mengiringi pementas tersebut.

Sampai pada akhir permainan, cara memukul celana “galembong” nampaknya tinggal dibenak penonton. Hal ini tampak pada sikap penonton usai pementasan. Beberapa diantaranya terlihat mencoba memperagakan beberapa gerak dalam pementasan yang dihelat Rabu malam itu (*)   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Chat dengan P4TKSB

Klik tombol Login with Facebook untuk chat dengan P4TKSB.
Login With Facebook