P4TKSB - P4TK SENI DAN BUDAYA YOGYAKARTA-

Majulah Seni Budaya Indonesia

Berita:
You are here: Berita P4TKSB Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Parjaya Seorang Widyaiswara P4TKSB di Gedung Olahraga SMKN 1 Gombong

Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Parjaya Seorang Widyaiswara P4TKSB di Gedung Olahraga SMKN 1 Gombong

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 2
JelekBagus 
Untitled document

ki-parjaya

Sleman : Parjaya yang akrab dengan sapaan Ki Parjaya, salah seorang Widyaiswara pedalangan PPPPTK Seni dan Budaya Sleman akan tampil di Gedung Olahraga SMKN 1 Gombong (STM), 23 Mei mendatang. Penampilannya di sana sebagai dalang ini atas permintaan Drs. Basikun,M.Pd, Kepala Sekolah SMKN (STM Gombong )dalam rangka peresmian pembagunan Gedung Olah Raga , yang informasinya menelan biaya kurang lebih 2 miliar rupiah..
Rencananya ia akan membawakan lakon “ Wiyata Mandala Giri “ yang mengisahkan tentang seorang kesatria bernama Raden Bratasena (Bima) belajar tentang ilmu hidup dan kehidupan kepada Begawan Druna. Walaupun menghadapi berbagai rintangan dan tantangan namun berhasil mendapatkan ilmu “Kasampurnaning Dumadi “ atau “Banyu Suci Perwitosari”.

Dalam kisah tersebut diceritakan, setelah berhasil mendapatkan ilmu “Kasampurnaning Dumadi”, Bima Suci tidak langsung kembali ke Kesatrian, namun pergi menuju sebuah Gunung Keiloso, disitu ia menyelenggarakan perguruan dengan nama “ Padepokan Argo Keiloso “Adapun murid-muridnya berasal dari Negara Astina, Pandawa dan sekitarnya. Sebelum ada Padepokan Argo Keiloso ini, kondisi kehidupan masyarakat Astina sangat amboradul, banyak sekali penyimpangan moral seperti tidakan judi, perampokan, penipuan, perselingkuhan dan lain-lain. Namun setelah berdirinya Padepokan Argo Keiloso dan para murid mulai mengimplementasikan ilmu yang didapat ke dalam kehidupan sehari-hari, maka dalam kurun waktu yang tidak lama kondisi kehidupan moral rakyat Astina bisa berubah menjadi baik.

Namun demikian apa yang dilakukan Bima Suci ini tidak disambut baik oleh Prabu Duryudono, Raja Astina. Bima Suci malah disangka telah merongrong kewibawaan Raja. Oleh karena itu Prabu Duryudonopun berniat untuk menyingkirkan dan membinasakan Bima Suci. Namun usahanya ini tidak berhasil karena hanya saat dan waktu ketika gagasan itu sudah selesai dilaksanakan maka berhentilah langkah Bima Suci atas kehendak Dewata.

Dari Lakon Cerita tersebut, misi yang hendak disampaikan oleh Ki Dalang adalah pentingnya mencari ilmu yang kemudian diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari serta mengajak kepada seluruh jajaran pelaku pendidikan agar secara bersama-sama menggerakkan pendidikan kea rah yang lebih baik, sesuai dengan falsafah tokoh besar pendidikan kita Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu bermula dari keluarga, lingkungan , masyarakat dan sekolah untuk membangun pendidikan karakter yang saat ini sedang digalakkan oleh pmerintah di kalangan pendidikan.

“Apalagi saat ini kan yang sedang digalakkan dimana-mana adalah pendidikan karakter”. Tuturnya saat diwawancarai di Studio Pedalangan PPPTK-SB.

Menurutnya, dalam pewayangan sarat dengan nilai hidup yang dapat dipetik untuk membangun pendidikan karakter. Dalam hal ini, sosok tokoh pewayangan yang dapat dijadikan inspirasi bagi pendidikan karakter adalah Raden Bratasena atau Bima yaitu mengenai usahanya yang gigih untuk mencari ilmu meski harus menghadapi banyak rintangan dan halangan yang akhirnya berhasil mendapatkan ilmu tentang hidup dan kehidupan. Bahkan tidak berhenti di situ, iapun menularkan ilmunya kepada orang-orang sehingga mampu merubah kondisi moral yang amburadul menjadi lebih baik (mrt)

 

Chat dengan P4TKSB

Klik tombol Login with Facebook untuk chat dengan P4TKSB.
Login With Facebook